Who's Online
Ada 57 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

PT Kereta Api Akan Uji Coba Lokomotif Bahan Bakar Gas
Selasa, 05 Februari 2008
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ronny Wahyudi mengatakan, perusahaannya akan mengujicobakan penggunaan lokomotif berbahan bakar gas menggantikan bahan bakar solar. "Kami akan uji coba tahun ini," katanya di Bandung, Jumat (25/1).

Menurut dia, uji coba itu merupakan langkah yang diambil untuk menyiasati kenaikan harga solar sejalan dengan kenaikan minyak mentah dunia. Saat ini PT Kereta Api tengah merancang lokomotif berbahan bakar gas dan akan dibuat di dalam negeri. Rencana ini diharapkan bisa selesai untuk diuji Juli nanti.

Satu unit lokomotif berbahan bakar gas itu akan dicoba di Sumatera Selatan. Lokomotif itu rencananya akan digunakan uintuk menarik gerbong pengangkut batu-bara di sana.

Pengujian itu, papar Ronny, untuk mengetahui investasi yang dibutuhkan dalam pembuatannya. Sekaligus, tambahnya, mengetahui efisiensi yang bisa diperoleh dengan pemakaian bahan bakar tersebut. Dari hitungan di atas kertas, katanya penghematan Bahan Bakar Minyak bisa mencapai 40 persen sampai 50 persen.

Menurut Ronny, pada Juli nanti, PT Kereta Api juga akan meluncurkan beberapa kereta api baru. Di antaranya, paparnya, 1 set Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi plus AC - dengan harga tiket di bawah KRL AC plus yang kini sudah beroperasi. KRL Ekonomi Plus yang memakai AC itu akan dioperasikan di Jabodetabek.

PT Kereta Api juga akan menambah 1 rangkaian Kereta Rel Diesel (KRD) untuk Daerah Operasi II Bandung dengan menggunakan gerbong kereta eks-KRL Jepang. Kereta komuter itu akan beroperasi melayani lintasan Padalarang-Cicalengka.

Selain itu, papar Ronny, perusahaannya juga akan menambah rangkaian kereta baru untuk kereta api yang saat ini sudah beroperasi. "Kita akan meluncurkan kereta baru seperti Argo Lawu dan Argo Dwipangga," katanya.

Direktur Operasional PT Kereta Api Indonesia Soedarmo Ramadhan mengatakan, penambahan kereta baru itu masing-masing 1 rangkaian. Penambahan itu, paparnya, sejalan dengan pengoperasian rel double-track baru di lintasan Kroya-Yogyakarta.

Keberadaan rel double track tersebut, paparnya akan menambah kapasitas lintasannya. "Tadinya 90 kereta api pr hari sekarang bisa sampai 184 lintasan," katanya.

Sumber: Tempo Interaktif

Terakhir diperbaharui ( Selasa, 05 Februari 2008 )
Zebra Nusantara dan PT KA Bangun Rel Kereta Jababeka - Priok
Kamis, 29 November 2007
 Perusahaan transportasi PT Zebra Nusantara Tbk bersama PT Kereta Api (Persero) akan membangun rel kereta api di kawasan Jababeka menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Kedua pihak telah menandatangani kerjasama pada 26 November 2007 untuk pembangunan Dry Port dikawasan Jababeka dengan menggunakan sarana angkut kereta api ke Pelabuhan Tanjung Priok.
 
"Nota kesepahaman ini berlaku satu tahun dan akan diteruskan jika ada kesepakatan," kata Direktur/Corporate Secretary Zebra, Irawan Handojo dalam penjelasan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis (29/11/2007).   Saat ini Zebra dan PT KA sedang melakukan detail desain pembangunan perpanjangan jalur kereta api dari stasiun Pasoso menuju Dermaga Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Serta kajian manajemen lalu lintas antara stasiun Pasoso-dermaga peti kemas JICT dan Koja.
 
 Untuk pembangunan dry port di kawasan Jababeka dengan sarana angkut kereta api ke Pelabuhan Tanjung Priok serta kelayakan usahanya, diperlukan konsultan untuk melaksanakan kajian kelayakan (feasibility study) atas rencana usaha.   Pembangunan dry port di kawasan Jababeka untuk menampung hasil produksi di kawasan Jababeka.
 
Sumber : Detik.com
Terakhir diperbaharui ( Kamis, 29 November 2007 )
Dephub dan Pemprov DKI ikut danai MRT
Senin, 12 November 2007
Departemen Perhubungan dan Pemprov DKI Jakarta mulai 2009 sepakat berbagi beban menanggung dana pendamping proyek mass rapid transit (MRT) jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas, Jakarta, senilai US$120 juta.Sekjen Departemen Perhubungan Wendy Aritenang Yazid mengatakan dana itu merupakan 15% dari total nilai proyek MRT sebesar US$800 juta yang didanai dari pinjaman Jepang.
 

"Sebagian dana itu akan dianggarkan dari DIPA [daftar isian pelaksanaan anggaran] Dephub dan anggaran Pemprov DKI Jakarta sesuai kesepakatan pinjaman dengan Jepang," katanya, baru-baru ini. Wendy menjelaskan skema pembagian dana pendamping (rupiah murni) akan dibagi antara Dephub dan Pemprov DKI Jakarta dengan komposisi masing-masing 48% dan 52%. Wendy menyatakan ketetapan itu mengacu pula pada hasil kesepakatan pengembalian pinjaman yang akan ditanggung bersama antara Dephub dan Pemprov DKI. "Untuk proses konstruksi pembangunan proyek MRT akan dimulai paling lambat 2010," katanya.


Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) akan mendanai proyek MRT sesuai skema pinjaman luar negeri yang besarnya 85% dari total nilai proyek sekitar US$800 juta. Untuk tahap awal, tambahnya, proyek MRT akan dimulai dengan pengerjaan desain teknis atau detail engineering design (DED) yang akan dikerjakan oleh konsultan internasional yang kini proses tendernya telah usai. Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Soemino Eko Saputro sebelumnya mengatakan pihaknya telah mengirimkan tiga konsorsium konsultan teknik yang dinyatakan lolos prakualifikasi oleh tim seleksi. Dia menjelaskan pihaknya belum bisa mengumumkan ke publik siapa yang akan menjadi konsultan teknik proyek MRT tersebut sebelum pihak JBIC menyetujuinya.

Baca selengkapnya...
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014