Who's Online
Ada 57 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Nasib Kereta Api di Sumut
Sabtu, 16 Mei 2009
Medan, 21/4 (www.antarasumut.com)- Ada “gawe” besar perkereta apian Indonesia untuk wilayah Sumatera, yang sudah direncanakan sejak kolonial Belanda bercokol di republik ini, tapi sampai sekarang belum terwujud. Cerita lama itu dipoles kembali hingga seperti baru, ketika Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jonan bersama direksi lainnya Wimbo dan pimpinan PT KAI Sumut, Albert Tarra menghadap Gubernur Sumut, H. Syamsul Arifin SE belum lama ini.


Dalam pertemuan itu orang-orang kereta api mengungkapkan, jalur rel kereta api Sumut akan dikembangkan sampai Sumatera Selatan. Ini bermakna, (entah kapan terwujud), warga Sumut dapat mencapai Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Bandar Lampung dengan kereta api. Kemudian menyebrang sampai ke Merak dan naik kereta api lagi lantas turun di Gambir, Jakarta. Kalau tidak terlalu lantam, dapat dikatakan mirip dengan Trans Siberia di Rusia atau Trans Atlantic di Amerika.


Kalau saja jembatan yang melintasi Selat Sunda sudah terpasang, perjalanan dengan naik kereta api dapat saja langsung dari Banda Aceh sampai ke Surabaya pp. Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura segera dioperasionalkan, maka garam dari ladang-ladang garam di Sumenep tak perlu lagi naik kapal, tapi cukup dituangkan dalam gerbong kereta api untuk kebutuhan Sumut. Namun gambaran yang cantik itu tidak diketahui kapan terwujud, karena diprakirakan lebih banyak kendalanya dibandingkan dengan kemudahannya.

Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 16 Mei 2009 )
Baca selengkapnya...
Tender for MRT Encounters Problems
Jumat, 27 Maret 2009
JICA-Dephub blame each other

JAKARTA: The Japan International Cooperation Agency (JICA) and the Department of Transportation blame each other for the delay in the fixing of the winner at the tender for mass rapid transit (MRT) basic design.

The JICA says it is still waiting for a response to the list of questions concerning the recommendation of the tender winner sent to the Department of Transportation, which states it has sent back its response.

“We sent our reply to the JICA at the end of last year. Therefore, just like Jakarta, we also expect the JICA to determine the winner sooner,” informed Director General of Railways at the Department of Transportation Wendy Aritenang Yazid yesterday.

However, according to the JICA spokesperson Iman Senoadji, the Department of Transportation had not sent its response to the list of evaluation questions.“The ball is in the hands of the Department of Transportation right now and we are still waiting for the response,” he said.

Iman explained the essence of the list of questions sent to the Department of Transportation was the request for clarification about the reason the department favored PT Katahira and set aside PT Nippon by giving them a point of 75.43 points and 74.13 points, respectively.

The request for clarification, he continued, was a common procedure in the JICA. It was the clarification that would serve as a basis to determine the winner at the US$17 million worth of tender.

Baca selengkapnya...
Prasarana Perkeretaapian
Kamis, 26 Februari 2009
Prasarana Perkeretaapian

A. Prasarana Jalan Rel
Jalan rel di Indonesia merupakan jalan rel yang diwariskan oleh Pemerintah Belanda. Pembangunan jalan rel yang dilakukan sampai dengan saat ini lebih merupakan perbaikan dan penggantian jalan rel yang telah rusak dan pembangunan jalan rel menjadi rel ganda (double track). Data dari Ditjen Perhubungan Darat tahun 2003 (ketika perkeretaapian masih berada dalam wewenang Dirjen Hubdat) menunjukkan jumlah panjang jalan rel yang ada di Indonesia adalah sebesar 4617 km yang terdiri dari berbagai jenis rel. Data panjang jalan rel di Indonesia sampai dengan tahun 2001 dijabarkan pada Tabel 4.1.

Jalan Rel Kereta Api Tahun 1995 s.d 2001 (meter)


Menurut Jenis Rel
Jenis
Rel

Tahun 

Pertumbu-
han (%)

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

1. R  54

649.510

762.541

802.556

844.515

1.846.816

1.846.816

1.169.269

18.31

2. R  50

203.030

212.130

212.130

212.130

211.630

211.630

204.803

0.17

3. R  42

1.956.506

2.047.467

2.007.452

1.982.429

1.750.086

1.750.086

2.064.473

1.28

4. R  33

911.237

945.586

945.588

931.594

775.948

775.948

763.051

-2.68

5. R  25

1.359.788

584.317

584.317

594.370

524.580

524.580

416.006

-14.62

Total

5.080.071

4.552.041

4.552.043

4.565.038

5.109.060

5.109.060

4.617.602

-1.30










Menurut Lintas
Uraian

Tahun

 

 

Pertumbu-
han (%)

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

1.  Raya

4.266.955

4.228.447

4.228.447

4.317.991

4.292.322

4.327.163

4.327.163

0.24

2.  Cabang

813.116

323.596

323.596

247.047

323.596

225.903

225.903

-13.84

Total

5.080.071

4.552.043

4.552.043

4.565.038

4.615.918

4.553.066

4.553.066

-1.73

Sumber: Ditjen Perhubungan Darat, Dephub, 2003

Secara umum terjadi penurunan jumlah panjang jalan rel sekitar 1,5% per tahun. Rata-rata lebar sepur yang dioperasikan adalah 1067 mm dengan tekanan gandar yang bervariasi antara 9-18 ton dan kecepatan operasi antara 60-110 km/jam. Program rehabilitasi rel mampu meningkatkan jumlah rel R 54, R 50, dan R 40 serta mengurangi jumlah rel tua (R 33 dan R 25). Secara umum masih terdapat backlog yang menyebabkan sekitar 53 km per tahun jalan rel perlu diganti karena umurnya lebih dari 75 tahun, dimana dalam 20 tahun terakhir diperlukan seharusnya 1060 km penggantian, namun realisasinya tidak lebih dari 400 km.

Sebagian besar jalan rel tersebut merupakan jalan rel tunggal (single track) kecuali pada beberapa lintas yang telah ditingkatkan menjadi rel ganda (double track) ataupun rel dwi-ganda (double-double track) antara Jakarta-Cikampek, Jakarta-Bogor, sebagian lintas Cikampek-Cirebon, Padalarang-Bandung, dan Surabaya Kota-Wonokromo.

B. Prasarana Jembatan
Sejalan dengan prasarana jalan rel, jembatan pada jarigan jalan rel di Indonesia juga mengalami penurunan khususnya pada penurunan kualitas akibat termakan usia. Salah satu penanganan yang dilakukan adalah ataupun penggantian jembatan jalan rel dari jembatan baja menjadi jembatan beton. yang lebih ekonomis dan perawatan yang relati lebih mudah. Pada Tahun 1995 terdapat 81.726 ton jembatan baja yang berkurang sampai Tahun 1999 menjadi 79.894 ton, sedangkan jembatan beton mengalami peningkatan dari Tahun 1995 sebanyak 14.804 m3 menjadi 22.275 m3 pada Tahun 2000. Data jembatan jalan rel tersebut dijabarkan pada Tabel 4.2.

Prasarana Jembatan Kereta Api di Indonesia


No.
Wilayah
Bagian Atas

Bagian Bawah
Pangkal/Pilar
(Unit)

Axle Load

Baja
(ton)

Beton
(m3)

20 ton
(unit)

15 ton
(unit)

13 ton
(unit)

1

Jawa

65.746

12.286

630.658

2.307

1.136

248

2

Sumatera







A

ESU

4.984

920

46.146

185

51

118

B

ESB

4.404

212

62.038

14

12

223

C

ESS

7.005

2.626

36.317

91

75

75

 

Total

82.139

16.044

775.159

2.597

1.274

664

Sumber: Ditjen Perhubungan Darat, Dephub, 2003

Sebagian besar jembatan di lintas utama di Pulau Jawa memiliki tekanan gandar sekitar 15 atau 20 ton dengan berat keseluruhan sekitar 65836 ton, dan sebagian kecil di lintas cabang dengan tekanan gandar 13 ton. Sedangkan di lintas utama Sumatera umumnya berbeban gandar sekitar 13, 15, atau 20 ton dengan berat keseluruhan 16303 ton. Hal ini menyebabkan pada Tahun 1999 seluruh jaringan jalan rel di Pulau Jawa dan Sumatera Utara dapat dioperasikan lokomotif CC-201 dan CC-203 dengan beban gandar 14 ton, sedangkan di Sumatera Selatan (Babaranjang) dapat dioperasikan lokomotif CC-202 dengan beban gandar 18 ton.

C. Prasarana Sintelis
Terdapat 3 kategori teknologi sistem persinyalan yang diaplikasi pada jaringan prasarana KA di Indonesia, yakni: electronic interlocking system, all-relay/NX-interlocking system, dan elektro mechanical interlocking system. Data persinyalan yang ada di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dijabarkan sebagai berikut.
  1. Perangkat sinyal di Jawa:
    1. Electronic Interlocking, terletak di: lintas  Merak – Tanah Abang, Jabotabek area, lintas  Cikampek – Cirebon – Semarang, lintas  Bekasi - Cikampek Padalarang – Gedebage, lintas  Cirebon – Kroya – Yogyakarta serta lintas  Tasikmalaya – Banjar - Kroya.     
    2. All Relay/NX-Interlocking, terletak di: stasiun Cikampek, stasiun Cirebon, stasiun Semarang, stasiun Surabaya Gubeng, stasiun Wonokromo, stasiun Solo-Balapan, stasiun Yogyakarta, stasiun Bandung serta lintas Wonokromo – Kertosono.
    3. Electro Mechanical Interlocking, terletak di: lintas Padalarang – Sukabumi – Bogor, lintas Gedebage – Tasikmalaya, lintas Prupuk – Tegal, lintas Semarang – Surabaya, lintas Semarang - Solo-Balapan, lintas Yogya – Solo – Kertosono, lintas Wonokromo – Bangil – Jember - Banyuwangi serta lintas Bangil – Malang – Blitar – Kertosono.
  1. Perangkat sinyal di Sumatera
    1. All Relay/NX-Interlocking, terletak di stasiun Medan.
    2. Electro Mechanical Interlocking, terletak di seluruh sub-jaringan Sumatera bagian utara, seluruh sub-jaringan Sumatera bagian barat serta seluruh sub-jaringan Sumatera bagian selatan.

Perkembangan yang signifikan adalah elektrifikasi persinyalan di mana persinyalan listrik pada Tahun 2002 tersedia di 200 stasiun dari hanya 13 stasiun utama pada Tahun 1995. Kondisi umum persinyalan KA secara umum disampaikan pada Tabel 4.3 yang melingkupi data mengenai peralatan sinyal, pintu perlintasan, instalasi telepon, saluran transmisi, dan instalasi radio. Perkembangan telekomunikasi yang penting adalah ditingkatkannya sistem jaringan sehingga probabilitas keberhasilan kontak telepon menggunakan TOKA meningkat. Fasilitas komunikasi data antar beberapa terminal komputer sudah tersedia di Jawa untuk mendukung sistem persinyalan elektrik, faksimili, dan komputerisasi tiket. Radio digunakan untuk pengendalian operasi KA di Jawa dan Sumsel. Dalam pelistrikan, perubahan hanya terjadi di lintas komuter Jabodetabek.


Kondisi Sintelis KA di Indonesia


No.
Data

Unit

A.

Lokasi Sinyal


1.

Peralatan sinyal di stasiun

553

2.

Peralatan sinyal di petak jalan

538

3.

Persinyalan CTC/CTS

15

4.

Pintu Perlintasan bersinyal

1.127

 


 

B.

Kondisi Telekomunikasi


1.

Jaringan Radio

103

2.

Train dispatching

989

3.

Perangkat telkom

30.113

 


 

C.

Perlistrikan


1.

Jaringan Catenary

468

2.

Gardu listrik

35

3.

Supply Daya Signal HUT

34

Sumber: Ditjen Perhubungan Darat, Dephub, 2003

D. Prasarana Stasiun dan Shelter
Sampai dengan Tahun 2003, jumlah stasiun sebanyak 571 unit yang terdiri dari stasiun besar dan stasiun kelas I,II, dan III. Sebaran dan tipe stasiun ini dijabarkan pada Tabel 4.4.

Stasiun Kereta Api di Indonesia


Daerah
Stasiun Besar

Sta. Kelas I

Sta. Kelas II

Sta. Kelas III

Jawa

26

37

76

395

Sumatera

5

9

22

98

Jumlah

31

46

98

493

Sumber: Ditjen Perhubungan Darat, Dephub, 2003

Data spesifik mengenai penyediaan fasilitas dan hubungan antarmoda di setiap stasiun tidak tersedia, namun dari pengamatan di lapangan sebagian besar stasiun KA tidak didukung oleh akses jalan dan moda lain yang memadai. Pengembangan beberapa terminal intermoda (dry port) di Bandung, Solo, Jember, Kertapati, Tebing Tinggi yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan peran KA dalam transportasi intermoda tidak cukup berhasil umumnya disebabkan oleh: ketersediaan sarana pelayanan yang tidak memadai, reliabilitas pelayanan yang meragukan, kapasitas yang kurang memadai, serta efisiensi jasa yang rendah.

Terakhir diperbaharui ( Jumat, 07 Februari 2014 )
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhiri >>

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014