Who's Online
Ada 45 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Jembatan, Culvert, Siphon dan Talang
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 19 Februari 2009
Bila jalan rel harus melewati suatu jalan air baik itu merupakan sungai atau sistem drainase, maka terdapat 3 struktur yang dapat dipilih yaitu:
1)      Bila aliran alir terdapat di bawah jalan rel makan digunakan jembatan, culvert atau open channel.
2)      Bila aliran air terdapat di atas jalan rel dan ketinggian airnya kurang dari loading gauge maka dapat digunakan siphon.
3)      Bila aliran air terdapat di atas jalan rel dan ketinggian airnya lebih dari loading gauge maka dapat digunakan talang.
Dimensi dari culvert, siphon atau talang akan mengikuti rekomendasi dari perhitungan hidrologi.

Secara umum pemilihan struktur atas jembatan berdasarkan:

1)      Bila ruang bebas lebih besar dari ruang free board dan ruang bebas kendaraan rencana:
No
Lebar Bentang
Jenis Konstruksi
1
L ≤ 5m
Box culvert
2
5m ≤ L ≤ 8m
Beton RCS (Re-Concrete Slab)
3
10m ≤ L ≤ 20m
Beton RCT (Re-Concrete T Type)
Beton Komposit CHS
4
15m ≤ L ≤ 20m
Baja TP (Through Plate)
Baja DP (Deck Plate)
5
L = 30m
Baja PT (Pony Truss)
6
50m ≤ L ≤ 75m
Baja TT (Through Truss)

2)      Bila ruang bebas yang ada sama dengan ruang bebas banjir rencana
No
Lebar Bentang
Jenis Konstruksi
1
2m ≤ L ≤ 5m
Baja I

Standar pemilihan hanya suatu acuan berdasarkan pengalaman Konsultan dalam menangani proyek multi year seperti proyek jalur ganda Cikampek - Cirebon Segmen 1 antara Cikampek - Haurgeulis, jalur ganda Kroya - Kutoarjo Fase 1 antara Yogyakarta - Kutoarjo dan pembuatan Implementation and Maintenance Operation Kereta Api baik prasarana maupun sarana.
Konstruksi beton prestressed untuk saat ini tidak diusulkan karena wilayah pekerjaan yang remote.  Sebagai tambahan, maka di laporan akhir akan terdapat bab mengenai constractibility khususnya yang menyangkut pemilihan jenis konstruksi beton prestressed dan CHS.

Karena wilayah pekerjaan di areal perbukitan, maka bila jalan rel harus melewati jurang yang tidak terdapat aliran air, pemilihan antara konstruksi timbunan atau jembatan merupakan pilihan yang kritis.  Rekomendasi dari ahli geologi/geoteknik tentang geologi dan hidrogeologi harus diikuti oleh perencana jalan rel dan jembatan.  Peristiwa amblesan jalan rel di BH 355 Ciganea dan jalan tol Cipularang merupakan pelajaran yang sangat baik.
Dari studi hidrologi yang pernah dilakukan oleh Ditjen Sumber Daya Air, ketinggian muka air banjir di wilayah ini masih ditambah dengan kondisi pasang surut. (DYG)
Terakhir diperbaharui ( Selasa, 10 Maret 2009 )

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014