Who's Online
Ada 23 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Spin Off PT KA Dipercepat
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 05 Agustus 2008
Pemerintah mempercepat proses pemisahan (spin off) PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi (Daop) I Jakarta menjadi awal Agustus 2008. Semula, spin off ini direncanakan dilakukan pada akhir tahun ini.''Spin off kelihatannya bukan akhir tahun ini, mungkin awal bulan depan,'' kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan (Dephub), Wendy Aritenang, di Jakarta akhir pekan lalu.Percepatan pemisahan menjadi awal Agustus 2008 ini, kata Wendy, hanya terkait dengan aksi korporasinya. ''Sedangkan spin off dalam arti kata penyelenggaraan perkeretaapian, memang memerlukan proses yang agak lama.''


Pemisahan PT KA Daop I Jakarta yang meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Tangerang, dan Bekasi dari perusahaan induk, jelasnya, selain memberikan kesempatan kepada swasta dan pemerintah daerah setempat untuk berpartisipasi, sekaligus juga meningkatkan pelayanan kepada pengguna KA.Sejak Undang-undang No 23/2007 tentang Perkeretaapian berlaku, pola operator tunggal atau monopoli operator kereta api berakhir. Kini, yang ada adalah multioperator. ''Nah, di sini pemda dan swasta lainnya bisa terlibat. Jadi, silakan saja, bila Pemda DKI atau lainnya ikut nimbrung di bisnis perkeretaapian mulai dari penyedia sarana, prasarana hingga operator.''

Hal serupa, sambungnya, telah dimulai oleh salah satu pemerintah daerah di Provinsi Sumatra Selatan yang membeli dua set kereta api untuk dioperasikan di lintas Kertapati-UNSRI tahun ini. ''Ini yang pertama di Indonesia,'' jelasnya. Terkait dengan urusan bisnis, ia mempersilakan pemda yang berminat menanamkan investasinya di sektor ini untuk melakukan hitung-hitungan bisnis dengan anak perusahaan PT KA tersebut. ''Silakan saja langsung, misalnya, soal operasional, bagi hasil, dan lainnya,'' katanya.


Lelang MRT

Sehubungan dengan rencana pembangunan fasilitas mass rapid transportation (MRT) di wilayah Provinsi DKI Jakarta, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Sugiadi Waluyo, mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan proses lelang penunjukkan konsultan engineering design.Sejauh ini, ungkapnya, ada tiga perusahaan konsultan asal Jepang yang telah menyampaikan proposal penawaran dalam lelang tersebut. Ketiga perusahaan konsultan itu adalah Pacific Consultant International, Nippon Koei, dan Katahira Group. ''Saat ini tim lelang kami sedang melakukan evaluasi terhadap proposal ketiganya,'' ujar Sugiadi.

Dirjen Perkerataapian Dephub, Wendy Aritenang, menambahkan, proses pengerjaan engineering design membutuhkan waktu 18 bulan. Sedangkan untuk pembangunan konstruksinya diperkirakan makan waktu tiga tahun.''Jadi, kalau bisa konsultannya diputuskan dalam 1-2 bulan ini, proses pengerjaan engineering design sudah bisa dimulai sekitar Oktober 2008,'' jelasnya.


Di Indonesia, MRT rencananya akan dibangun sepanjang 14,5 kilometer (km). Jalur MRT untuk tahap pertama ini menghubungkan Lebak Bulus-Dukuh Atas. Dari MRT sejauh 14,5 km, sepanjang 4,5 km di antaranya berada di bawah tanah (subway) yang dilengkapi dengan empat stasiun bawah tanah dan delapan stasiun di permukaan tanah.Proyek ini didanai dari pinjaman Japan Bank International Cooperation (JBIC) dengan bunga sebesar 0,4 persen per tahun dan masa pengembalian selama 30 tahun. Kewajiban pengembalian, sebesar 58 persen ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan 42 persen oleh pemerintah pusat.


Berdasarkan kesepakatan per 28 November 2006 antara Pemerintah Indonesia dan Jepang, pembiayaan proyek ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, untuk studi engineering design dengan biaya sekitar 17,5 juta dolar AS. Kedua, untuk tahapan konstruksi proyek senilai kurang lebih 800 juta dolar AS.

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014