Who's Online
Ada 28 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Pengembangan Kereta Api Jateng
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 05 Februari 2008
BENARKAH pengembangan transportasi kereta api jarak pendek merupakan kebutuhan mendesak bagi Jateng? Investasi moda transportasi berbasis rel itu sudah tentu akan menelan biaya tak sedikit dan penuh spekulasi. Mulai dari pembenahan rel, pengadaan gerbong, hingga kemampuan menarik penumpang dan mendulang untung di masa mendatang. Sementara, di sisi lain berbagai rencana proyek jalan tol Pemda sendiri belum tuntas. Tak heran bila muncul rasa optimistis dan pesimistis di benak masing-masing orang.

Demikian yang terpaparkan dalam Diskusi Terbatas ''Pengembangan Perkereta-apian di Jateng'' di Hotel Patra Semarang Rabu (24/5) malam. Diskusi tersebut diikuti kalangan pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha, BUMN/BUMD, serta pihak-pihak yang berkompeten di bidang transportasi.

Kereta api memang pernah berjaya sebagai transportasi massal di Jateng, terutama pada masa kolonial Belanda. Jejak rekamnya jelas terlihat pada keberadaan lintasan rel di semua kota dan kabupaten, kecuali di Salatiga. Bahkan sejumlah pelabuhan besar pun turut dilalui lintasan itu.

Kini sebagian lintasan rel tersebut memang tinggal kenangan dan kondisinya memprihatinkan. Maka muncullah gagasan untuk menghidupkan kembali jalur-jalur itu sebagai transportasi alternatif masa kini. Wagub Ali Mufiz pun nampak antusias dan menyiapkan Pemda untuk memfasilitasi investor kereta api.

''Proyek ini tidak sekadar ingin mengulang romantisme masa silam. Saat ini ada investor yang tertarik serta ada dukungan UU Kereta Api. Kami akan mengintegrasikan jalur kereta api dan jalur darat, dengan tetap melanjutkan rencana jalan tol Semarang-Solo,'' katanya.

Sejumlah jalur dinilai memiliki potensi ekonomi, baik untuk angkutan barang, angkutan penumpang, angkutan wisata, dan angkutan komuter. Misalnya, Sragen-Semarang-Tanjung Emas, Purwokerto-Cilacap-Tanjung Intan, Semarang-Cepu, Semarang-Demak-Kudus, dan Semarang-Solo-Yogya. Hal itu diperkuat dengan kesediaan investor yang akan menangani proyek itu. Setidaknya, hingga kini, sudah ada beberapa investor kereta api asal Malaysia, Jepang, dan Ceko yang telah melakukan pembicaraan dengan Pemda untuk membangun rute pendek. Karenanya, sebelum melangkah lebih jauh, Wagub Ali Mufiz berupaya mengumpulkan informasi obyektif dari stakeholders.



Biaya Tinggi

Salah satunya dikemukakan pengelola Pelabuhan Tanjung Emas, baik oleh General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Udaranto PH, Ketua Organda Tanjung Emas, Slamet Riyadi. Untuk menghidupkan jalur kereta api di pelabuhan ternyata tak semudah dibayangkan. Meski lintasan relnya telah tersedia, bukan berarti gerbong kereta api langsung bisa jalan. Keberadaan kereta api memiliki efek terhadap sistem transportasi yang ada selama ini. Misalnya, di Pelabuhan Tanjung Emas terdapat 1.200 truk pengangkut barang dari berbagai sentra industri. Pengiriman melalui truk lebih fleksibel mengikuti aturan waktu pelayaran kapal ekspor.

TPKS menerapkan peti kemas harus sudah berada di dalam terminal beberapa jam sebelum kapal bersandar. Sementara, angkutan kereta api memiliki jadwal perjalanan tersendiri dan tidak mungkin menunggu muatan gerbong hingga penuh. Pengiriman barang ekspor tetap bersandar pada waktu pengiriman yang ketat.

''Karenanya perlu dipikirkan juga apakah nanti jumlah pengguna angkutan kereta ini layak dari sisi ekonomi. Di samping itu, bila dihitung, menggunakan jasa kereta api ini justru melonjakkan biaya operasional angkutan barang pelabuhan. Perlu disiapkan dryport juga. Apalagi sentra industri di Jateng lokasinya di berbagai tempat,'' kata Slamet.

Wakil Ketua Kadin Jateng, Dhodit LA Wardhana, mengingatkan hal terpenting dalam rencana ini adalah soal return of investment (ROI). Bila rute yang dikembangkan tidak menguntungkan maka tentu saja investor akan meninggalkan begitu saja. Apalagi pilihan transportasi darat tersedia beragam.

Setiap 1 km jalur kereta api diperkirakan butuh investasi Rp 7 miliar. Karena itu analisa kelayakan ekonomi perlu ditonjolkan. Tak masalah bila mengangkat romantisme masa silam bila memang mengungtungkan. ''Potensi itu justru mampu mendongkrak potensi kereta wisata.

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014