Who's Online
Ada 49 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Nasib Kereta Api di Sumut
Ditulis oleh Administrator   
Sabtu, 16 Mei 2009
Medan, 21/4 (www.antarasumut.com)- Ada “gawe” besar perkereta apian Indonesia untuk wilayah Sumatera, yang sudah direncanakan sejak kolonial Belanda bercokol di republik ini, tapi sampai sekarang belum terwujud. Cerita lama itu dipoles kembali hingga seperti baru, ketika Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jonan bersama direksi lainnya Wimbo dan pimpinan PT KAI Sumut, Albert Tarra menghadap Gubernur Sumut, H. Syamsul Arifin SE belum lama ini.


Dalam pertemuan itu orang-orang kereta api mengungkapkan, jalur rel kereta api Sumut akan dikembangkan sampai Sumatera Selatan. Ini bermakna, (entah kapan terwujud), warga Sumut dapat mencapai Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Bandar Lampung dengan kereta api. Kemudian menyebrang sampai ke Merak dan naik kereta api lagi lantas turun di Gambir, Jakarta. Kalau tidak terlalu lantam, dapat dikatakan mirip dengan Trans Siberia di Rusia atau Trans Atlantic di Amerika.


Kalau saja jembatan yang melintasi Selat Sunda sudah terpasang, perjalanan dengan naik kereta api dapat saja langsung dari Banda Aceh sampai ke Surabaya pp. Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura segera dioperasionalkan, maka garam dari ladang-ladang garam di Sumenep tak perlu lagi naik kapal, tapi cukup dituangkan dalam gerbong kereta api untuk kebutuhan Sumut. Namun gambaran yang cantik itu tidak diketahui kapan terwujud, karena diprakirakan lebih banyak kendalanya dibandingkan dengan kemudahannya.


Sejak dinasionalisasi dari perusahaan Belanda, Deli Spoorwecht Machtcappij (DSM) sehubungan dengan perjuangan merebut kembali Irian Barat tahun 1960, nasib perkereta apian di Sumut terkesan semakin runyam dan bukan bertambah maju. Perusahaan-perusahaan perkebunan, yang juga menjadi pelanggan tetap kereta api, nyaris bangkrut karena salah urus. Akibatnya angkutan barang dari perkebunan ke pelabuhan Belawan dan sebaliknya, tidak sepenuhnya mengisi gerbong barang yang disediakan.

Berbeda dengan Jawa dan Aceh, pembangunan jalur kereta api di Sumut dirancang untuk angkutan komoditi perkebunan. Dengan demikian perusahaan perkebunan tidak perlu susah payah membeli truk guna mengangkut komoditinya ke pelabuhan, serta dapat mengurangi kepadatan arus lalu lintas di jalan raya. Komoditi perkebunan itu berupa karet, kelapa sawit, daun nenas (sisal), batang pisang, coklat, tembakau dan sebagainya. Sebaliknya angkutan kereta api di Jawa memang untuk angkutan penompang, sedangkan di Aceh untuk kebutuhan perang.


DSM memang sudah merancang pembangunan jalur rel kereta api dari Kota Radja (sekarang Banda Aceh) sampai ke Teluk Betung (Bandar Lampung). Berdasarkan rancangan tersebut, rel kereta api Aceh yang lebarnya mirip dengan rel muntik (rel kereta api yang beroperasi di perkebunan) diperlebar mengikuti standar nasional. Selain itu juga dirancang akan dibangun jalur rel kereta api dari Pematang Siantar ke Sibolga dengan melintasi beberapa kawasan Tapanuli. Pada jalur ini dipasang rel bergigi mirip dengan kereta api jurusan Jakarta – Bandung. Semua rencana besar itu termaktub dalam buku induk perkereta apian berbahasa Belanda yang tersimpan di kantor pusat PT KAI di Bandung.


Rencana baru lainnya yakni pembangunan jalur kereta api dari Stasion Bandar Tinggi, desa kecil di Kabupaten Simalungun yang berbatasan dengan Kabupaten Batubara, ke pelabuhan Kuala Tanjung sepanjang 15 km  juga tidak terwujud. Rancangan itu berdasarkan hasil survey perusahaan Perancis untuk memberdayakan pelabuhan Kuala Tanjung, yang dibangun PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Mengikuti rancangan tersebut, komoditi dari Labuhan Batu, Asahan dan sekitarnya dikapalkan melalui pelabuhan ini, sehingga tidak perlu menyibukkan pelabuhan Belawan. Tapi sayangnya tidak ada kapal tujuan ekspor yang buang jangkar di pelabuhan ini.


Kini nasib perkereta apian di Sumut terasa seperti runyam. Pemegang kunci kekuasaan di perusahaan perkebunan negara (BUMN) membangun armada angkutan sendiri dan mulai meninggalkan kereta api. Ini sungguh disesalkan, karena mereka sepertinya tidak mau tahu, keterkaitan sejarah perkebunan dengan perkereta apian. PT KAI Sumut juga kehilangan banyak asset terutama di Medan karena banyak lahannya yang potensial, berada di jantung kota, yang beralih ke perusahaan lain.


Nasib kekayaan PT KAI di Deli Tua, Pancur Batu dan sekitarnya, lebih parah lagi. Ada rumah warga yang dibangun di atas rel kereta api. Warga yang tidak tahu diuntung itu dipercaya tidak membayar sewa tanah, walau pun menguasai lahan milik negara secara turun temurun. Seluruh masalah tersebut merupakan kendala untuk membangkitkan kembali citra perkereta apian di Sumut, sehingga mampu memberikan kontribusi untuk pembangunan nasional. (R01MOS)

Link Sumber

Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 16 Mei 2009 )

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014