Who's Online
Ada 58 tamu sedang online


Our Partners
MGC
JTC
Nippon Koei
LAPI ITB
SMEC INTERNATIONAL


Jumlah Pengunjung



Artikel Favorit

 

 











 

 

home mail

Komponen-komponen BOKA Ekonomi
Ditulis oleh Administrator   
Sabtu, 16 Mei 2009
Komponen-komponen mengenai biaya pengoperasian angkutan kereta api penumpang kelas ekonomi sebagaimana yang dimaksudkan dalam SKB terdiri dari 9 (sembilan) macam biaya yang meliputi:
1.      Penyusutan sarana yang merupakan milik badan penyelenggara yang terdiri dari :
a.       Lokomotif;
b.      Kereta.
2.      Pemeliharaan sarana, terdiri dari :
a.       Lokomotif;
b.      Kereta.
3.      Pelumas;
4.      BBM atau sumber energi yang lain;
5.      Awak yang terdiri dari :
a.       Biaya tetap
b.      Biaya premi awak
6.      Penggunaan prasarana;
7.      Stasiun;
8.      Umum;
9.      Kantor pusat.

Pada paragrhap sebelumnya disampaikan bahwa biaya pengoperasian sesuai dengan Surat Keputusan Bersama Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Direktur Jenderal Anggaran dan Deputi Kepala Bappenas Bidang Prasarana No. SK.95/HK.101/DRJD/99, No. KEP – 37/A/1999 dan No. 3008/D.VI/06/1999 terdiri dari 9 (sembilan) biaya. Namun pada prinsipnya biaya produksi dalam hal ini Biaya Operasi Kereta Api (BOKA) terdiri dari dua macam biaya yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan langsung, sedangkan biaya tak langsung berupa biaya overhead yaitu seluruh biaya produksi yang tidak dapat digolongkan sebagai biaya bahan langsung dan  biaya tenaga kerja langsung.
1. Biaya tenaga kerja langsung (biaya awak)
Yang dimaksud biaya tenaga kerja langsung dalam BOKA adalah biaya awak yang terdiri dari masinis, asisten masinis, kondektur, dan petugas PLKA.
a. Gaji tetap
Yang dimaksud dengan biaya awak adalah gaji dan tunjangan yang dibayarkan bagi pegawai yang melekat di KA, yaitu terdiri dari masinis, asisten masinis, kondektur dan petugas PLKA. Dalam hal ini setiap petugas akan mendapatkan gaji bulanan juga akan mendapatkan emulemen yang dihitung berdasarkan setiap dinasan.
Untuk menghitung pembebanan gaji pokok awak setiap KA yang beroperasi akan dihitung dengan mencari biaya gaji pokok awak per jam, yang didapat dari gaji rata-rata petugas dibagi jam kerja per bulan lalu dikalikan dengan jam tempuh KA.

Pembebanan gaji pokok = Total gaji rata2 petugas/150 x jam tempuh

b. Emulemen
Emulemen dibayarkan kepada awak yang menjalankan dinasan, pembayaran emulemen telah diperhitungkan sesuai dengan ketentuan berlaku di PT.KAI.
Emulemen perawak KA terdiri dari:
• Premi dasar
Premi dasar dibayarkan kepada setiap awak KA dengan jumlah rupiah yang telah ditentukan. Cara perhitungan premi dasar adalah sebagai berikut:
Setiap kali awak melakukan dinasan dibayar Rp. X, untuk waktu tempuh 6 jam dan 15 menit
• Premi tambahan
- Awak yang melakukan dinasan dengan waktu tempuh melebihi 6,15 jam minimal kelebihannya 30 menit. Jika kelebihan waktu tempuh melewati 6 jam dan 15 menit, maka jumlah yang diberikan adalah sebagai premi dasar
- Awak yang menginap
• Premi Km
Premi Km dibayarkan kepada awak berdasarkan jarak tempuh setiap kali dinasan. Premi Km dihitung dengan cara mengalikan tarif yang telah ditentukan oleh PT.KAI untuk setiap awak dikalikan Km tempuh KA yang beroperasional


2. Biaya bahan langsung (biaya bahan bakar dan pelumas)
Biaya bahan langsung yang dimaksud ini adalah biaya bahan bakar dan pelumas. Pada perhitungan BOKA per Km - KA standarnya menggunakan grosston sebagai dasar perhitungan. Tetapi sesungguhnya yang terjadi untuk menghitung penggunaan bahan bakar dan pelumas menggunakan 2,5 L solar (termasuk didalamnya untuk kereta pembangkit) dan 0,068 L pelumas per Km. Jika ditelusur ke biaya bahan bakar yang sesunguhnya ternyata standar ini masih bisa digunakan.


3. Biaya overhead
Secara garis besar biaya overhead bisa dikelompokkan menjadi tiga:
a. Biaya overhead yang langsung bisa ditelusuri ke tiap-tiap KA misalnya biaya depresiasi dan biaya perawatan KA
b. Biaya overhead yang dibebankan menurut jenis KA
c. Biaya overhead yang tidak bisa dihubungkan secara khusus dengan bahkan dengan biaya perjenis KA. Biaya overhead ini dikeluarkan untuk semua jenis KA. Untuk biaya overhead jenis ketiga ini cara pembebanan kepada KA dilakukan melalui dua tahapan:

Dialokasikan per jenis KA

Setelah tahapan pertama baru dialokasikan ke seluruh KA pada masing – masing jenis KA. Misalnya untuk KA ekonomi kemudian dialokasikan ke masing- masing KA ekonomi



(i) Biaya deprisiasi
Biaya deprisiasi yang sekarang berlaku pada perhitungan BOKA dihitung dengan menggunakan Metode Harga Pokok Pengganti (Replacement Cost Method): PT KAI tetap menggunakan metode garis lurus, tetapi nilai aktiva yang didepresiasikan dinilai sebesar harga beli aktiva yamg sama pada saat ini dalam dolar kemudian dikalikan dengan nilai tukar (kurs) saat ini.
Asumsi yang digunakan PT.KAI menggunakan harga pokok pengganti, bukan harga perolehannya, dengan anggapan bahwa harga beli lokomotif pada saat telah digunakan 20 tahun (umum ekonomisnya) akan mengalami kenaikan yang signifikan.
Untuk pembelian lokomotif dan kereta baru, agar PT.KAI mampu membeli lokomotif dan kereta baru setelah umur ekonomisnya habis, maka pembebanan kepada tarif dilakukan dengan menggunakan harga perolehan pengganti sebagai dasar perhitungan deprisiasi
(ii) Biaya perawatan
Selanjutnya pada bahasan berikut mengulas tentang perawatan sarana kereta api. Untuk perhitungan BOKA, biaya perawatan dibebankan sebesar biaya standar MI (Maintenance Instruction). Namun dalam pelaksanaannya dengan alasan keterbatasan data, PT. KAI mempunyai standar perawatan sendiri yang disetujui oleh pejabat internal perusahaan.
Jika dibandingkan dengan biaya perawatan standar PT.KAI, maka biaya perawatan sesungguhnya menunjukkan angka yang lebih besar kira-kira 25%. Namun jika perawatan sesungguhnya dibandingkan dengan standar MI, maka biaya perawatan sesungguhnya masih lebih kecil dari biaya perawatan standar MI, karena kenyataannya terdapat beberapa item perawatan yang tidak dilaksanakan.
(iii) Biaya pegawai
Selain biaya tenaga kerja langsung yang dalam hal ini adalah biaya awak, biaya yang berkaitan dengan keseluruhan pegawai PT.KAI dapat dikelompokkan menjadi:

Pegawai langsung yang dibebankan sebagai awak KA yang disebut biaya tenaga kerja langsung;

Pegawai tidak langsung yang dibebankan ke BOKA sebagai non awak terdiri dari pegawai divisi sarana yang tidak berada di atas kereta. Alokasinya berdasarkan Km-KA;

Pegawai stasiun yang dibebankan ke BOKA menjadi bagian/elemen dari biaya stasiun. Alokasinya berdasarkan proporsi pendapatan;

Pegawai lainnya yang meliputi pegawai TPK, Balai Yasa, Dipo, Instalasi Tetap, Gudang, Inklaring, Mess dan BPLT serta Kantor Pusat, DAOP.

Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 16 Mei 2009 )

 
 
  PT. Dardela Yasa Guna - Jakarta - Indonesia © copyright 2006 - 2014